Haru biru tahun 2020 catatan reza darmawan
in berita kediri

Haru biru tahun 2020 catatan reza darmawan

Dalam hitungan hari, kita akan memasuki tahun baru 2021. Tentunya banyak harapan tercurah di tahun macan nanti. Tapi, kita juga tak boleh melupakan berbagai peristiwa di tahun 2020 yang banyak menguras energi anak bangsa sekaligus tragedi yang meng-haru biru.

Saya mencatat banyak peristiwa yang patut dijadikan pelajaran berharga, sekaligus menuntut kewaspadaan kita sebagai anak bangsa, untuk tidak boleh lengah sedikitpun, dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita juga dituntut lebih care terhadap berbagai persoalan yang terjadi di negeri ini, tak terkecuali di kota kita, Kota Kediri.

Tragedi nasional       

Awal tahun 2020, tepatnya di bulan Maret, Indonesia mendapat kejutan dengan kedatangan Covid-19. Virus yang pertama ditemukan di Wuhan, China itu, sampai di indonesia.  Awal covid mewabah di negeri ini, ditandai dengan terjangkitnya dua orang warga negara Indonesia pada tanggal 2 Maret 2020. Setelah itu, virus corona terus menyebar dan banyak memakan korban jiwa, yang hingga kini belum ada tanda-tanda bakal mereda .

Tak berhenti sampai disitu, wabah virus corona juga menghantam ekonomi tanah air. Selain mempengaruhi pertumbuhan ekonomi hingga terjadi resesi, pandemi Covid-19 juga sangat dahsyat menghantam sektor usaha. Banyak pelaku usaha utamanya Usaha Mikro Kecil dan Menengah kalang kabut bahkan sampai bangkrut.

Nestapa kota kediri

Saya juga mencatat berbagai peristiwa terjadi di kota kediri selama tahun 2020. Pada bulan Pebruari tahun 2020 tepatnya tanggal 15 hari Sabtu Legi, Kota Kediri berduka . Wakil walikota ibu Nyai Hj. Lilik Muhibbah berpulang. Beliau yang juga pengasuh Pondok Pesantren Al-Ishlah akrab disapa Ning Lik, wafat dalam pengabdiannya di awal periode kedua sebagai wakil walikota .

Sebulan kemudian, Kota Kediri mengalami masa sulit yakni ketika wabah virus corona juga menghampiri kota ini. Berbagai aktivitas warga dibatasi sehingga berdampak pada kehidupan sosial ekonomi masyarakat Kota Kediri. Hampir sebulan lamanya, warga dilarang keluar rumah, banyak perkampungan menerapkan lock down dan memberlakukan jam malam, pusat perbelanjaan tutup, aktivitas ekonomi warga nyaris lumpuh. Hingga akhir tahun 2020, warga kota kediri yang terkonfirmasi positif covid-19 mencapai hampir 700 orang, meninggal dunia 43 orang (data per tanggal 29 Desember 2020).

Pandemi covid-19 di Kota Kediri juga berdampak pada arah kebijakan publik. Walikota Kediri memangkas seluruh anggaran program pembangunan hingga mencapai Rp.154 miliar, untuk difokuskan pada penanganan dampak Covid-19. Bahkan walikota juga menghapus Program Pemberdayaan Masyarakat (Prodamas) Rp.100 juta per RT per tahun, padahal program itu tertuang dalam janji kampanye ketika dia maju ikut pilkada untuk kedua kalinya.

Hingga kemudian Pemkot Kediri menggulirkan program padat karya yang diharapkan mampu meringankan beban masyarakat terdampak pandemi Covid-19. Tapi di lapangan, program padat karya tak seindah yang dibayangkan. Banyak laporan yang saya terima dari masyarakat, saya berharap program itu semakin baik kedepannya.Karena pada dasarnya, spirit utama proyek padat karya adalah agar ekonomi masyarakat tidak tersendat, sehingga bisa mengurangi beban ekonomi warga terdampak pandemi .

Saya termasuk satu dari sekian banyak anggota DPRD Kota Kediri, yang terus menyuarakan dan mengawal agar program-program yang sudah dianggarkan di tahun 2020 yang kemudian di fokuskan untuk penanganan covid-19, dilaksanakan dengan cepat dan transparan.

Ada juga program bantuan sosial bernama kartu sahabat. Program berupa bantuan uang tunai sebesar Rp.200 ribu plus beras yang totalnya senilai Rp.300 ribu, yang digadang-gadang bisa mengatasi persoalan ekonomi warga terdampak pandemi, belum bisa meringankan beban ekonomi masyarakat .

Masih di tahun 2020, saya mencatat ada juga peristiwa seputar kebijakan publik yang terasa timpang. Banyak kekosongan jabatan kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), membuat kinerja pemerintah Kota Kediri kurang maksimal. Banyaknya jabatan kepala SKPD yang lowong, dan diisi oleh pelaksana tugas yang kewenangannya terbatas, juga semakin memberatkan beban kinerja birokrasi pemerintahan Kota Kediri. Sehingga, pekerjaan besar berupa penanganan pandemi Covid-19 kurang maksimal. Pejabat yang rangkap jabatan (definitif dan Plt) kewalahan menjalankan program-program pencegahan Covid-19, karena banyak penganggaran dialokasikan dilebih dari satu instansi yang pejabatnya rangkap jabatan tadi. Ibarat orang seharusnya memikul air satu ember, dipaksa memikul dua ember. Apa yang terjadi ? Terseok-seok bahkan tidak menutup kemungkinan lumpuh, tidak bisa jalan sebagaimana mestinya.

Dari sekelumit catatan saya di tahun 2020, tentunya masih ada waktu untuk memperbaiki. Dibutuhkan komitmen tinggi untuk tetap mengutamakan kepentingan masyarakat ketimbang kepentingan pribadi maupun golongan. Komitmen itulah yang nantinya akan betul-betul dirasakan oleh masyarakat berupa suksesnya program pembangunan di Kota Kediri. Dibutuhkan kerjasama untuk menuntaskan PR, diantaranya pencegahan wabah virus corona yang hingga akhir tahun ini peningkatannya luar biasa, maupun PR-PR pembangunan lainnya.

Kita semua harus tetap optimis, perjalanan kelam di tahun 2020 pasti akan berganti menjadi gemilang. Semoga di tahun macan nanti kita bisa lebih kuat dan jaya menghadapi segala persoalan yang melanda. Tetap Semangat,Terus Berjuang , dan Patuhi Protokol Kesehatan.

Selamat tinggal 2020 , selamat datang tahun 2021.